
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menegaskan bahwa kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan secara tatap muka di sekolah. Menurutnya, kualitas pendidikan menjadi pertimbangan utama dibanding efisiensi jangka pendek.
“Pembelajaran harus tetap optimal dan tidak menimbulkan learning loss,” ujarnya.
Sebelumnya, wacana sekolah daring sempat mencuat sebagai salah satu opsi untuk menekan konsumsi energi nasional. Dengan mengurangi mobilitas siswa dan tenaga pendidik, penggunaan BBM—terutama untuk transportasi harian—diperkirakan dapat ditekan.
Ancaman PHK Massal PPPK Menguat, Kebijakan Anggaran Jadi Sorotan
Wacana ini juga muncul dalam konteks antisipasi tekanan global, termasuk potensi kenaikan harga energi dan kebutuhan efisiensi di berbagai sektor. Namun, setelah melalui evaluasi, pemerintah menilai bahwa dampak penghematan BBM dari sektor pendidikan tidak sebanding dengan risiko penurunan kualitas pembelajaran.
Pengalaman selama pandemi COVID-19 menjadi salah satu pertimbangan utama. Pembelajaran daring dinilai memiliki keterbatasan dalam interaksi langsung antara guru dan siswa, yang berpengaruh pada pemahaman materi serta pembentukan karakter.
Karena itu, pemerintah memilih tetap mempertahankan pembelajaran tatap muka sebagai metode utama, meskipun harus mengesampingkan potensi efisiensi energi dari sektor pendidikan.
Meski demikian, upaya penghematan BBM tetap menjadi perhatian pemerintah. Sejumlah langkah alternatif tengah didorong, seperti pengaturan kerja fleksibel di beberapa sektor, peningkatan penggunaan transportasi umum, serta efisiensi energi di perkantoran dan industri.
Datang di Luar Daftar Tamu, Kehadiran Anies Baswedan di Cikeas Saat Halalbihalal Susilo Bambang Yudhoyono Jadi Perbincangan
Dengan keputusan ini, kegiatan belajar mengajar pada 2026 dipastikan tetap berjalan normal secara tatap muka, termasuk setelah periode libur Lebaran. Orang tua dan siswa tidak perlu khawatir terhadap kemungkinan kembali ke sistem pembelajaran full daring dalam waktu dekat.
Pembatalan sekolah daring ini menunjukkan bahwa pemerintah menempatkan kualitas pendidikan sebagai prioritas utama. Di tengah dorongan efisiensi energi, sektor pendidikan tetap dijaga agar tidak mengalami penurunan kualitas yang dapat berdampak jangka panjang bagi generasi muda.****