
Pertandingan baru berjalan tiga menit saat Germán Cano mencetak gol pembuka untuk Fluminense, memanfaatkan kesalahan lini belakang Inter. Sementara gol kedua dicetak oleh Hércules di masa injury time, tepatnya menit ke-90+3, menutup kemenangan telak tim asal Brasil.
Sepanjang pertandingan, Inter Milan tampil dominan dengan penguasaan bola yang jauh lebih tinggi. Namun, dominasi itu tidak diiringi efektivitas. Beberapa peluang dari Federico Dimarco, Lautaro Martínez, dan Marcus Thuram gagal dikonversi menjadi gol.
Di sisi lain, Fluminense tampil disiplin. Strategi tiga bek yang diterapkan pelatih Renato Gaúcho sukses meredam serangan Nerazzurri. Kiper berusia 44 tahun, Fábio, menjadi pahlawan dengan sejumlah penyelamatan gemilang yang menjaga keunggulan timnya.
Kekalahan ini tidak hanya menyakitkan secara hasil, tetapi juga memicu ketegangan di ruang ganti Inter Milan. Kapten tim, Lautaro Martínez, menyampaikan pernyataan keras usai pertandingan.
“Beberapa dari kami berjuang, tapi yang lain tidak. Jika tidak ingin bertahan untuk lambang ini, lebih baik pergi,” kata Lautaro kepada media.
Pernyataan tersebut diduga ditujukan kepada Hakan Çalhanoğlu, yang tampil di bawah performa dan kehilangan konsentrasi di momen krusial. Menurut laporan media Italia, Presiden Inter Beppe Marotta akan segera menggelar rapat internal membahas situasi tersebut.
Pelatih Inter, Cristian Chivu, tak menutupi kekecewaannya. Ia menyebut timnya belum cukup siap menghadapi tekanan pertandingan internasional. Ini menjadi kekalahan pertama Inter di era kepemimpinannya sejak ditunjuk sebagai pelatih kepala menggantikan Simone Inzaghi.
Sementara itu, kemenangan atas Inter menjadi bukti bahwa Fluminense layak diperhitungkan di turnamen antarklub dunia. Mereka kini melangkah ke babak perempat final dan menantikan lawan berat: pemenang antara Manchester City dan Al-Hilal.
Kekalahan Inter Milan dari Fluminense pada 30 Juni 2025 menjadi catatan pahit dalam sejarah klub. Di sisi lain, keberhasilan Fluminense menunjukkan bahwa strategi yang solid dan semangat kolektif bisa mengalahkan dominasi teknis. Bagi Inter, ini lebih dari sekadar kekalahan ini adalah peringatan untuk segera berbenah, baik di lapangan maupun di dalam ruang ganti.***